Friday, October 20, 2006

…dan musim semi juga meninggal pergi

Hati yang tersayat tidak mampu menghalang. Air mata berjuntaian jatuh tidak putus dan sedu sedan juga tidak berbekas. Dia melangkah bersahaja, meski masih ramai memaut-maut keras dan berpekik keharuan, “Jangan pergi, jangan pergi”.
Bukan seperti musim semi yang lain, ini yang paling istimewa.
Sepanjang masa ia menghangatkan, memberi nyaman, rasa selesa dan lapang dada.
Beburung berlagu merdu irama yang tidak dapat disimfoni.
Dan tidak menghidu melainkan wangian rindu dan keinsafan.
Segera sahaja bisa terbuai keasyikan maha dalam, hingga memberi satu petalian tanpa nama, tidak punya definisi.
Asyik! Sungguh.
Ia musim yang mengjungkir balik kenangan yang tinggal. Di waktu cuaca membeku. Sejuk melampau. Pada waktu daun-daun gugur kering, kesat dan tidak bernyawa berputar jelas dihadapan mata.
Maka sinar yang menyinggah terasa sangat bererti, sangat dinanti, tepat masanya. Maka harapan memetik bunga-bunga segar, mekar, paling indah harus bergantung pada semi ini. Ya! Semi yang ini.
“Mungkinkah ia yang terakhir, lantas kehilangan memedih di hulu hati, berakar pada tempat paling seni?”
“Semi, oh semi. Tidak kau mengerti harapan yang dicurahkan. Masih belum puas aku merenggut rahsia bersama, engkau sudah mahu melambai”.
Semi harus pergi. Pasti. Itu sunnahnya alam. Tawakal pada segala benih yang ditanam semusim ini bakal menjelma keindahan alam yang memukau itu.
“Jika kau begitu mencintai putaran musim panas, engkau perlu selalu membajai dan menyiram. Jangan putus asa! Ia bukan tempat orang tidak mengenal raja’.
Benih-benih di bulan keramat, keramat juga sifatnya, asal sahaja kau tidak lupa, jangan lupa dan berpaut”.
“Kalau kau tahu sebesar mana kecintaan ini, kau patut tahu aku perlu di bawa pergi. Sekali. Bersama-sama. Tapi jika bukan suratan, rintihku jangan lupakan. Moga lewat sekali lagi, kau bisa mengenalku yang semakin dewasa”.
Alangkah bagusnya aku di bawa pergi bersama.
Tapi depan menjanji sejuta hikmah yang tersingkap.
Jika telah belajar mencintai semi, cintailah dia setulusnya.
Ia pergi dengan janji, akan muncul kembali.
Cuma jodoh pertemuan tetap di tangan Pangeran.
“Semi, aku tidak punya puisi cinta
Tapi engkau tentu telah lama mengerti
Tanpa kata, engkau mengerti”.
Sehingga bertemu kembali, aku menunggu dengan sabar.

Thursday, October 12, 2006

Subuh ini


Wajah yang dimuliakan
Pada subuh ini
Bergerak melangkah
Mendekati syahadah
Syahid, Ramadhan, Al Qadar
Menunggu dengan sabar
Sysss........
Amir Al Mukmeenin
di dalam kamar
gering diperbaringan

Tuesday, October 10, 2006

DIA


DIA
tanpa ruang, tanpa sempadan
tanpa tempat, tanpa waktu
tanpa indera, tanpa dimensi
tanpa sebab, tanpa alasan
p
tapi DIA
setulus
semulus
sekudus
semurni
sejernih
kasih dan cinta
p
kerana DIA
segala wujud
berimbang
bertujuan
ditunjuki jalan
p
aku tenggelam
dalam lautan
mabuk cinta padaNya

Monday, October 09, 2006

Bilakah 'Intellectual Substances' Akan Menjadi Pakaian?



'Intelektual yang ulama
Ulama yang intelektual'

Mengapa masing-masing masih lagi memakai pakaian yang terpisah-pisah?

Friday, October 06, 2006

Engineering Does Matter!

Geotechnical Assessment in Local Construction Development?

The government has announced to adapt geotechnical assessment in all construction projects either in highland or lowland. Where constraint has been given in highland area with angle of repose of more than 30o and height more than 300m previously, the new policy will be looking into wider area even in lowland. Geotechnical assessment in not similar with the environment impact assessment, it will be concentrate on the sustainability of the soil to retain loading, others, the subsurface condition, the existing of groundwater level, the bearing capacity, the collapsible and compressible properties, the rate of settlement and many more. Well, after all, we are talking most of the time about to design the foundation system here. Even to many technical person, is rather late, but as wise man said, better late than never. When dealing with the last frontier of loading to be imposed on-the foundation, the consideration of safety might be two or even three times of the ultimate load. Consider as conventional, but it will give a great relief to the design office and engineers.
The technical aspect above can be related to our life as a muslim. If we consider prayer as the column (pillar) of religion, the foundation definitely is Syahadatain. Required daily prayers are five times a day and night. Which mean we required to articulate Syahadatain at least 9 times for a complete set. The factor of safety to remain our foundation in a good shape at least 1.8 approximate 2 (9 divide by 5). That can be adopted as minimum value in construction works. But of course, if the engineers wanted to sleep well at night, they will suggest more than that perhaps 2 or 3 or even 4 at a time. That implies in technical and practical in construction practiced. Therefore, it will too reflect in our daily life to maintain our foundation in a good shape and will not collapse even a very worst twister attack. But bear in minds, to increase the factor of safety, we rather can repeat Syahadatain with or without pray, which mean it still flexible and will not give extra burden to us, right (Quran2:45)? In simple words to widen the area of the foundation, it never meant to have more column (pillar), but having more pillar means that we can built greater building and very safe too. But what will happen if we do not achieve the minimum value of safety (1.8 - 2.0)? In retaining wall design, it is for sure cannot sustain the overturning effect, which in short, it will collapse in capsizing action or definitely upside down!
As the government has suggested to asses on the last frontier recently, Lord God have reminds us 1400 years ago. Do we reflect then?

Wednesday, October 04, 2006

Panduan Berdoa

Dipetik dari buku ‘Kaifiyat Mempertajam Mata Hati Dalam Mengenal Allah” – Syaikh Ibnu ‘Athaillah Al – Sukandari.

Dari Imam Al-Ghazali – beberapa adab yang mesti dipatuhi dan dilaksanakan oleh orang yang sedang berdoa:
1. Dilakukan pada saat-saat yang mulia, seperti hari ‘Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumaat, antara dua k
hutbah solat Jumaat, antara azan dan iqamah dan sebagainya.
2. Dilakukan dengan penuh khidmat
3. Menghadap ke kiblat dan menadahkan kedua-dua belah tangan.
4. Merendahkan suara, sekadar dapat didengar oleh telinga sendiri.
5. Menggunakan bahasa yang sederhana atau lebih diutamakan menggunakan doa-doa yang berasal
daripada Rasulullah saw, para sahabat dan tabiin.
6. Khusyuk dan merendahkan diri.
7. Meyakini bahawa doanya akan dikabulkan dan tidak merasa kecewa atau berputus asa apabila doanya b
elum dikabulkan.
8.
Mengulang-ulangi doanya dengan penuh keyakinan.
9. Memulai doanya dengan menyebut nama Allah, memuji Allah dan berselawat ke atas Nabi Muhammad
saw, serta diakhiri dengan bacaan hamdalah atau kalimah yang memuji Allah.
10. Melaksanakan adab batin, yakni:
i. Bertaubat sebelum berdoa.
ii. Menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah.
iii. Makan dan minum serta berpakaian dari barang yang halal.
iv. Tidak meminta perkara-perkara yang mustahil.
v. Tidak meminta untuk mencelakakan orang lain, kecuali orang yang zalim.

Monday, October 02, 2006

Bulan Ramadhan bulan Cinta

Cinta Allah pada hamba:
Dikurniakan Al-Qadar pada salah satu di malam-malam Ramadhan
Lebih baik dari 1000 bulan

Cinta Nabi pada umat:
Rasul sebagai penyampai khabar gembira (glad tidings) dan pemberi amaran.
Menerima wahyu pertama, menyingkap makna ciptaan.

Cinta umat pada Nabi?
Moga secebis ingatan, di bulan Ramadhan bekal subur jiwa

Pantun Cinta Muhammad

Bakul di isi limau purut
Dalam balang ikan gelama
Jalan tuan hamba kan turut
Bersama berjuang daulat agama

Kasih tuan kasih hamba
Kasih kita perlu dibela
Berkalang tanah tidak mengapa
Biar langit menyaksi segala

Menatang dulang paku berkarat,
Bawa tempayan selalu melulu,
Kasih hamba tidak bersyarat,
Moga redha di sisi selalu.

(It's been a very long time, before I managed to write 'pantun' again, except for some occasion when my MC friend need my help to make a few line).
p/s: kengkawan, sila baca ikut intonasi pantun yea, baru ada feel.