Wednesday, August 01, 2012

(Ramadhan Tanpa TV) Mursila: Tidak Ada Lagi TV di Rumah Kami

TAK ADA LAGI TV DI RUMAH KAMI

OLEH : MURSILA

Cahaya kecilku waktu itu berusia 3.5 tahun, Zia namanya, seorang anak lelaki yang lincah namun pemalu, Zia namanya, ia sangat suka meniru tokoh idolanya mulai dari Spiderman, Batman, Superman, Power Ranger, dan Ultraman.   Tak jarang aku harus menggunting plastik sampah ditengah kesibukanku memasak di dapur, sekedar untuk membuatkan sayap di lehernya, dan jika sayap plastic sampah itu teleh terikat erat Zia akan berlari dengan kepalan tangannya, wajahnya yang polos akan bersinar gembira, jika sudah demikian Zia akan berlari mengelilingi istana kami... sebentar saja bilik demi bilik akan riuh dengan suaranya yang lantang,... “yeaaahhh Ultraman datang... kamu raksasa..akan kalah ditanganku... BERTUKAR... huuussssss “ begitulah peminat tokoh imaginasi ini meluahkan angan-angannya...

Dulu aku berfikir hal ini adalah sesuatu yang biasa karena  tak sedikit aku dapati anak-anak lain seusianya pun akan berperilaku seperti itu terhadap tokoh idola mereka, namun baru kusadari baru-baru ini jika kebiasaan ini menghambat potensi yang dimilikinya... Zia sedikit bermasalah dalam menyusun bahasa,  begitu sering dia mengulang kata yang sama dalam satu kalimat yang terkadang akan membingungkan siapapun yang berbicara dengannya... sebagai contoh..... ibu Zia nak makan, tapi tak nak dengan telor, tapi telor tak sedap, sebab Zia nanti sakit perut’... atau kalimat lain ..... ibu tadi kan Zia nampak ada gukguk (anjing) nak masuk rumah kita, tapi tak jadi, tapi abang Zia ada, gukguk takutkan abang, tapi abang tak takut gukguk, sebab gukguk tak jadi masuk rumah kita...

Bagiku kalimat diatas terlalu panjang dan bertele-tele, anakku Zia telah pandai mengucap huruf ‘r’ dengan jelas namun kesulitan menyusun kalimat... dia akan sangat panjang menjawab jika kami tanyakan satu soalan saja... misalnya ..Zia kawan ada kat rumah ke?...  Zia akan menjawab... ada... tapi tadi tak ada, sebab abang dia bawa kawan pergi jauh, sekarang ada kat rumah dengan ayah dia..tapi dia  tidur tadi,,,abang Zia nampak....   inilah bahasa semrawut anakku...aku berfikir keras mengapalah anakku berbicara seperti ini.. apakah karena kami bukan orang Malaysia jadi dia ‘confuse’ dengan bahasa kami dan bahasa kawan atau jiran yang kami kenal?... lama ku amati anakku... namun ternyata bukan itu alasannya... adik Zia, anakku nomor 2 berusia setahun di bawahnya... dia agak pelat namun dapat menyusun kalimat dengan baik, meski tak jelas vokalnya namun kami akan mudah memahaminya.

Beberapa hari aku perhatikan apa yang menyebabkannya anakku Zia seperti itu, barulah aku tau, Zia akan sangat lama duduk diam di depan TV ketimbang adiknya, dan jika TV ini aku matikan serentak Zia akan menangis kuat dan marah, padahal acara yang dilihatnya bukan acara yg disukainya seperti acara berita di TV atau acara orang dewasa lainnya, setelah kumatikan TV dalam waktu satu hingga dua jam Zia tak berhenti marah, merengek, menangis,...sehingga hal ini membuatku begitu risau dengan kestabilan emosi yang dimilikinya.
Aku mulai mengurangi tontonannya... biasanya Zia akan menonton TV dalam waktu 2-3 jam di pagi hari setelah bangun tidur , 1 jam di waktu siang...dan 3 jam di waktu malam. Aku menguranginya dengan hanya 1 jam saja sehari Zia kuperpolehkan melihat TV, itupun hanya sebatas  acara kartun atau hero yang disukainya, namun cara ini tak berkesan untuk mengurangi ketidak stabilan emosinya. Zia tetap marah jika kumatikan TVnya, dia akan mencuri – curi waktu untuk menyalakan TV seorang diri. Aku sangat sedih... sehingga pada suatu hari ada seorang kawan beserta keluarganya ziarah ke rumah kami, mereka menceritakan sebuah buku yang berjudul ‘ bermain lebih baik daripada menonton TV’ dan mereka pun bercerita bahwa anak mereka sudah lama tidak melihat TV lagi. Aku terdiam karena aku tau usia anak kawan kami tersebut dengan Zia hanya berbeda 4 hari saja. Namun aku melihat anak kawanku itu lebih aktif dalam berbicara, dan lebih cepat menjawab pertanyaan yang ku berikan ketimbang dengan Zia anakku.

Akhirnya kuputuskan untuk menghentikan TV secara total... aku katakan kepada anakku bahwa TV itu rosak dan tak boleh digunakan lagi, aku mencabut beberapa wayarnya, sehingga Zia tak dapat menyalakan TV seorang diri.

Dalam masa satu minggu aku memang kesulitan menenangkannya, Zia tak boleh bermain sendiri, aku harus senantiasa berada di sampingnya ketimbang adiknya, aku belikan banyak mainan menggantikan TV, namun Zia masih belum dapat menikmatinya dia akan terus meminta kami membaiki TV yang dianggapnya rusak. Dalam satu hari Zia bisa 7-8 kali menangis dan merengek.. setelah satu bulan barulah aku lihat ada perubahan pada diri anakku... Zia lebih dapat menguasai emosinya, dan kulihat dengan bermain ternyata Zia lebih gembira. Zia lebih banyak tersenyum dan tertawa dan sering bermain bersama adiknya, bukan hanya itu jika aku beri Zia beberapa buku, Zia akan duduk diam memperhatikanku membacanya, dan jika aku menyuruhnya membaca Iqro Zia bersemangat sekali... jika dulu satu muka surat dibacanya dalam beberapa hari,  kini  Zia dapat  membaca 5 muka surat sendiri, Zia pun mudah ku suruh dalam melakukan hal-hal yang baik, sholat berjama’ah, membagi makanannya kepada orang lain, bermain bersama-sama dengan adiknya, membantuku mengemas mainan dan lain-lain.  Alhamdulillah aku bersyukur sekali.

Televisi bagiku lebih banyak memadorotkan dari pada manfaatnya, meski banyak berita menarik di dalamnya, namun ianya hanya beberapa peratus sahaja, selebihnya adalah tayangan yang sangat berbahaya khususnya untuk anak anak yang tengah bertumbuh kembang, seperti tayangan kekerasan, bahasa yang kasar, konsentrasi yang cepat hilang dan lain.

Dengan tibanya Ramadan kali ini telah hampir setahun Zia tak melihat TV, namun dia masih ingat tokoh –tokoh idolanya, meski demikian Zia lebih gembira tanpa TV dan kini Zia telah dengan mudah menghafal beberapa surat-surat pendek dalam al quran dari mulai surah an-Nas sehingga surah al qodar disamping doa-doa harian yang ku ajarkan, jika tengah bermain aku sering mendengar Zia tak lagi menyanyi lagu-lagu mengarut di TV, aku lebih sering mendengarnya melantunkan ayat-ayat al quran yang dihafalnya, Zia telah 4.5 tahun namun belum kami masukan tadika, karena berbagai alasan, sungguh usia balita ( anak di bawah 5 tahun) adalah usia keemasan begitu mudahnya kami mengajarkan apa yang kami tau kepada buah hati kami tanpa ada virus dari manapun, keras hati pada anak dan malas belajar menurut kami sebagian besar adalah karena TV dan cara ibu bapa mendidik anak, dengan melihat TV anak-anak belajar tidak peduli dengan sekitarnya.

Ramadan ini Zia tengah belajar puasa dia akan bangun setelah azan berkumandang, pergi ke suaru dengan ayahnya dan makan sesudah tiba dirumah..setelah itu Zia belajar berpuasa hingga pukul 2 siang dan menyambungnya kembali hingga maghrib, Alhamdulillah dia sendiri yang mahukannya, aku hanya bercerita tentang kebaikan orang-orang yang puasa dan Zia faham. Tanpa TV  Zia menjadi terbiasa bermain, apa saja dapat dijadikan mainan olehnya, Zia menjadi lebih kreatif dan teliti menganalisa sesuatu, tak jarang dia bertanya tentang hal-hal yang difikirkannya, misalnya... abah mengapa Alloh maha kuasa?... Ibu...mengapa manusia mesti mati, dan dikubur?.... mengapa Alloh membuat neraka dan surga...  dan masih banyak lagi pertanyaan yang dilontarkannya saat ia tengah asyik bermain... mungkin pertanyaan ini tidak akan muncul saat ia tengah menonton TV...

Aku sayang anakku, aku bangga pada  mereka dan kuharap dia menjadi manusia yang hebat dengan akhlak yang mulia suatu hari nanti, Amien
 
 

2 comments:

Cikli said...

Superman, Batman, Cicakman disiarkan semasa anak-anak tengah aktif.
Pedoman, disiarkan selepas tgh malam sebelum lagu Negaraku. Budak sudah tidur. Sebab itu Pedoman tak pernah menjadi superhero.

ASaL said...

Salahkan media tidak melaksanakan tanggungjawab sosial?

:)