Thursday, January 21, 2010

Doa untuk Rafiq

Pagi ini, pagi paling cemas. Sejak semalam, rafiq (sang hikmah) telah menyatakan kebimbangan. Takut-takut ada yang tidak kena. Kami akan menyambut Sultan, hari ini. Dan sebagai sebuah negeri beraja, ia lebih dari sebuah majlis keraian. (saya akan cerita lagi insyaAllah tentang majlis ini).
Saya memberi rafiq pesan Abang, untuk berdoa dan terus-terusan berselawat atas Nabi. Meski, saya sendiri gentar tidak terkawal. Dalam mengelolakan majlis, ini adalah sesuatu yang terlalu besar dari segi cabaran dan melayan karenah orang. Dan rafik ini istimewa kerana dialah pengerusi majlis dengan makna orang pertama, dengan kata lain pemilik majlis. Bayangan gentar yang melanda di jiwanya. Tapi dalam perjalanan umur saya, sukar untuk melihat orang yang bekerja tanpa mengharapkan ganjaran material tetapi saya lihat lain dari rafik ini. InsyaAllah dan saya selalu berdoa, dia adalah orang yang ikhlas. Yang jernih. Dan seperti pesan dia yang selalu disampaikan ketika saya sedang bersedih 'Allah itu penolong orang yang ikhlas'.
Subuh ini saya bangun lebih awal. Dalam sukma ada getar. Saya kenal getar ini. Ia adalah getar keramat, getar cinta. Lalu saya berdoa untuk getar ini ditebus dengan doa kesempurnaan dan kelancaran majlis rafik. Agar dia dikurniakan tenang dan aman, kerana saya sangat percaya Allah itu penolong mereka yang ikhlas. InsyaAllah.
Doakan!

2 comments:

Nur said...

Apa yang lebih indah
dari harumnya mawar berembun
yang tumbuh di tepi danau,
ketika dinginnya pagi beranjak dengan sopan
saat semburat tipis mentari mengintip di cakrawala?

Waktu purnama semalam permisi untuk pergi,
meninggalkan senyum tipisnya yang cantik dalam hatimu?

Yaitu saat engkau tahu
di balik semua keindahan pagi itu,
ada bahagia dari seorang sahabat
yang sedang tersenyum mengingatmu.

Ia antarkan harimu itu dengan lantunan doa indah
yang menghubungkan engkau, dia,
dan Tuhanmu,
dalam satu tali cahaya yang menyala.

Kemudian ia biarkan doa itu terbang berarak dengan riang ke langit.

Maka purnama, embun, mawar, danau, dingin, dan semburat mentari
saat itu berbicara bersama:

Hari ini engkau akan tersenyum,
sebagaimana Tuhan tersenyum pada engkau dan dia, saat itu.


Herry Mardian, 7 Mei 2006,
http://suluk.blogsome.com/2006/05/07/doa-untuk-sahabat/#more-98

ASaL said...

Segala kilauan
mengamankan mata
Namun tidak memberi
jiwa gembira

saat hebat
bila dikurniai
saling merasa
bila berbalas pandang
redha meredhai
dan tidak melihat
melainkan
kebesaran Tuhan

tika itu
sebelah tangan telah
menggapai
bintang di syurga!

Subhanallah.